Dialektika kesedihan

Benarkah bahwa kesedihan itu paralel dengan ketidakbahagiaan? Yakinkah anda bahwa disetiap lorong-lorong kesedihan selalu bersemayam ruang-ruang gelap keputusasaan dan tempat bertumbuhnya kesengsaraan bathin. Kalau benar demikian adanya betapa menyedihkannya Sang Pencipta Kesedihan, karena tidak ada faedah, maslahat ataupun kebaikan secuilpun didalamnya selain berisi kemudharatan, kesakitan dan bahkan menjadi borok yang menggerogoti kehidupan manusia. Kesedihan dengan beragam bentuk dan musababnya pun seakan datang dan menghantam kehidupan manusia tanpa kompromi. Manusia bersedih ketika ditinggal orang yang dicintai, banyak juga manusia tenggelam dalam kesedihan dan bunuh diri karena kehilangan harta, dan tidak sedikit pula manusia tidak lagi bisa mencicipi citarasa kesedihan karena gila sejak kehilangan jabatannya. Akhirnya, Kesedihan yang sering juga dilawankatakan dengan kebahagiaan ini pun menjadi musuh bebuyutan yang pasti sebisa mungkin akan dihindari bagi manusia-manusia pencari “kebahagiaan”.

Melihat sebagian bentuk kegetiran dan kesakitan sebagai akibat dari kesedihan tersebut diatas, mungkin hanya orang yang berani dicap sebagai orang sinting saja yang berani mengatakan bahwa ada wajah lain dari kesedihan yang sebenarnya dibutuhkan manusia, dan keberadaannya ibarat kesatuan jiwa dan tubuh yang tidak dapat dipisahkan agar sebuah entitas bisa dikatakan hidup bahkan menginspirasi umat manusia hingga bisa berhasil survive sampai hari ini detik ini dan sampai seribu tahun lagi jika Tuhan menghendaki. Ya, Kesedihan adalah guru kehidupan yang tampil dengan wajah yang berbeda. Saya mohon maaf untuk mengatakan hal ini, tapi memang begitulah adanya. Dan seperti halnya musim yang datang silih berganti dalam kehidupan manusia, kesedihan juga demikian, dengan beragam bentuknya selalu datang pada saat yang tepat, saat dimana manusia membutuhkan siraman dan taburan pupuk kehidupan agar selalu bertumbuh dan bertumbuh, walaupun tidak banyak manusia yang menyadarinya.

Tidak banyak yang saya ketahui tentang kesedihan maupun penyebab kenapa manusia menghindari kesedihan, karena mungkin pengalaman dan perjalanan hidup saya yang masih belum panjang. Tetapi sebisa mungkin saya merangkul kesedihan sama eratnya dengan kegembiraan yang bisa jadi jarang berkunjung waktu itu. Betapa tidak, sejak hampir sebelas tahun yang lalu perjalanan saya kabur dari rumah hampir lebih dari separuhnya berisi pengalaman-pengalaman yang bisa jadi berlumuran kesediihan, tetapi saya bersyukur karena ternyata kehidupan memberikan banyak melebihi yang saya harapkan.

Obrolan saya dengan abang saya sore itu bisa jadi adalah obrolan pertama kami sebagai sosok dewasa pertama kali dalam hidup kami sebagai saudara kandung sejak berpisah selama sepuluh tahun.

"Apa arti kebahagian menurut kamu jib ?" tanya dia sambil nyeruput secangkir kopi hangat. Saya yang dari tadi sibuk memperhatikan hujan gerimis di depan teras rumah sedikit kaget dan surprise.

Saya cuma bisa menggeleng dan mengangkat bahu.


"Menurut kamu ?" tanyaku balik
"Hmm..."
 dia hanya tersenyum
"Fear...Rasa takut" tiba-tiba dia menjawab
"Maksudnya ?" Saya mencoba mendapatkan penjelasan
"Jangan takut, maka kamu akan bisa bahagia. Manusia yang bisa mengelola rasa takutnya yang bisa menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya" jawab dia mantap.

Saya hanya terdiam sambil bergumam dalam hati.
"Ah, apa benar? bukannya kita masih butuh rasa takut?"

Mungkin pengalaman hidup abang saya yang pernah jadi tahanan politik dan dipenuhi konflik sejak terjun menjadi pembela hukum untuk kasus-kasus wong cilik di pedesaan mengajarkan demikian. Belum lagi semua terurai di otak saya, dia berkata lagi.

"Ketika kamu tidak takut maka kamu akan lupa rasa sedih"
"Maksudnya?"

"Kebahagiaan dan kesedihan jadi sama enak rasanya"

"Hahahahaha....." Saya spontan tertawa walau belum tuntas mencernanya, dan kami hanya tertawa-tawa saja setelah itu, sambil sesekali nyeruput kopi digelas kami yang mulai mendingin.
Labels: Cerita dan Motivasi

Thanks for reading Dialektika kesedihan. Please share...!

Back To Top